DPD Mahasiswa Pancasila Lampung Ajak Generasi Muda Jadi Agen Pencegah Hoax

BANDARLAMPUNG, MajalahMiliter - DPD Mahasiswa Pancasila (Mapancas) Provinsi Lampung menggelar ‘Bincang Milenial’ dengan tema ‘Literasi Digital Bagi Generasi Millenial Menuju Indonesia Anti Hoax’ di Dunkin Donuts, Kedaton, Bandar Lampung, Kamis (21/2).

Kegiatan yang dihadiri puluhan mahasiswa/i dari BEM Universitas Lampung, Universitas Malahayati, Universitas Darmajaya dan Polinela ini menghadirkan narasumber Heri Wardoyo (Dewan Penasehat Mapancas/Mantan Wakil Bupati Tulang Bawang), Ganjar Jationo (Kabid Diseminasi Informasi Dinas Kominfo Provinsi Lampung), Wulan Suciska (Dosen Ilmu Komunikasi Unila) dan Wiwik Hastuti (Jurnalis Senior Lampung Post/Anggota Muslimat NU Lampung).

"Bincang Milenial ini bertujuan untuk memberikan pemahaman bagi generasi muda tentang hoax, agar bisa membantu mencegah penyebarannya. Agar generasi muda paham bahaya hoax dan mengenai literasi resmi di era digital, supaya bisa croscek sebagai dasar informasi valid dan teruji,” ujar Sugirin, Ketua DPD Mapancas Provinsi Lampung.

Sugirin juga mengajak anak milenial menjadi agen pencegahan hoax. “Kita mengajak anak milenial menjadi agen pencegahan hoax. Anak muda juga jangan sembarangan share berita yang belum tentu kebenarannya, pilah literasi digital, agar mampu menyaring derasnya arus hoax di media sosial dan TV streaming," ajaknya.

Sementara itu Dewan Penasehat Mapancas Heri Wardoyo mengatakan, hoax disebarkan orang jahat tapi pintar yang menyasar masyarakat yang kurang literasi. “Saat ini, hoax identik dengan strategi politik, yakni Firehose of Falsehood yang dilakukan dengan menyebarkan hoax secara masif, kontinyu dan berantai dari berbagai chanel atau sumber, sehingga mampu menenggelamkan fakta yang sebenarnya,” jelas Heri.

Menurutnya, cara menangkalnya dengan memancing keingintahuan masyarakat untuk mencari informasi terkait kebenaran yang ada, juga dengan memberikan informasi bernuansa humor atau jokes.  Narasumber lainnya, Londriyano mengatakan, saat ini politik yang digunakan adalah intervensi kebohongan, dimana masyarakat banyak disuguhi dengan hoax yang dikhawatirkan dapat merubah penilaian masyarakat. 

Pada kesempatan yang sama, Kabid Disemninasi Informasi Dinas Kominfo Lampung, Ganjar Jationo dalam kesempatan itu mengatakan bahwa hoax adalah berita bohong atau disinformasi, dimana penyebar dan pembuat hoax tersebut dapat dikenakan UU ITE. Ganjar juga menjelaskan ciri hoax diantaranya dapat mengakibatkan kecemasan, permusuhan dan kebencian, sumber berita tidak jelas dan substansi tidak berimbang.

Sementara Wulan Suciska, mengatakan saat ini hoax sangat masif disebarkan di media sosial (medsos), khususnya terkait Pilpres 2019. Dimana 92% hoax tersebar di medsos, dan medsos sendiri dimiliki oleh 34% penduduk Indonesia. Dan, Jurnalis Senior Lampung Post, Wiwik Hastuti mengajak generasi muda Indonesia untuk lebih kritis dalam mengkonsumsi berita. “Budaya cek, ricek dan kroscek harus dikedepankan, generasi muda harus meningkatkan literasi resmi,” pesannya.