Goebox Indonesia Ajak Masyarakat Jaga Kondusifitas Usai Pemilu 2019

JAKARTA, MajalahMiliter – Usai sudah semarak Pemilihan Presiden dan Pemilu Legislatif 2019 yang dihelat pada 17 April 2019 lalu. Goebox Indonesia sebagai salah satu wadah generasi milenial yang peduli pada berbagai isu sosial politik kemasyarakatan, menggelar diskusi dan deklarasi damai untuk menjaga kondusifitas Kamtibmas sambil menunggu pengumuman resmi hasil perhitungan yang sah dari KPU.

Diskusi dan deklarasi damai dengan tema ‘Menang Kalah Tetap Bersaudara’ ini digelar di Upnormal Coffee Roasters di kawasan Jl. Raden Saleh, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (24/4). Hadir sebagai pembicara dalam diskusi publik ini antara lain, Ketua PP GP Anshor Ruchman Basori, Sekretaris Jenderal DPP KNPI  Addin Jauharuddin dan Akademisi Diana Ambarwati, dengan moderator Ruzi Sutiawan.

Kegiatan ini sendiri diikuti oleh peserta dari beragam latar belakang, seperti aktivis, mahasiswa, pekerja, akademikis dan masyarakat umum. “Menjadi penting untuk segera menyosialisasikan dan mempublikasikan pentingnya mempererat persaudaraan pasca perbedaan pilihan. Menang kalah tetap bersaudara. Menang kalah tetap menjadi tetangga,” kata Addin.

Sementara itu, Akademisi Diana Ambarwati menuturkan, klaim kemenangan sepihak oleh salah satu pasangan calon dalam Pilpres 2019 berdasarkan survei internal, memang perlu untuk diwaspadai, mengingat publik mulai banyak yang turut terprovokasi.

“Untuk itu, perlu diambi langkah seperti, mengamankan hasil perhitungan Pemilu Legislatif dan Pilpres, mendukung aparat keamanan dalam menciptakan suasana kondusif di wilayah Indonesia, menolak informasi yang mengarah pada provokasi yang dapat membuat suasana konflik, tidak melakukan tindakan anarkis yang memicu kerusuhan massal,” paparnya.

Adapun Ruchman Basori menyampaikan keprihatinannya atas fenomena usainya Pemilu 2019, tidak diikuti dengan berakhirnya cercaan dan hoax yang beredar, terutama di dunia maya. “Tapi kami optimis, perjuangan politik tahun ini adalah sebatas mengantarkan generasi tua, untuk mengakhiri masa kejayaannya di kursi perpolitikan Indonesia, digantikan oleh generasi muda,” singkatnya.