PK Hamas Unsera Kembali Menggelar Kamisan

BANTEN, MajalahMiliter – Himpunan Mahasiswa Serang (Hamas), melalui PK Hamas Universitas Serang Raya (Unsera), kembali menggelah Kajian Menanti Senja (Kamisan), yang kali ini digelar di Restoran Gama Food, Kota Serang, Banten, Kamis (25/4).

Diskusi yang mengusung tema ‘Peran Mahasiswa Menjaga Legitimasi Pemilu 2019’ ini diikuti sekira 50 mahasiswa dari Unsera dan Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin. Hadir sebagai narasumber dalam diskusi kali ini yakni, Embay Mulya Syarief (tokoh pendiri Provinsi Banten), Kepala Subbag Poldagri Kesbangpol Kabupaten Serang Dikdik Abdul Hamid, serta Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Unsera Liza Diniarizky Putri.

Sebagai pembicara pertama, Embay mengajak mahasiswa yang hadir untuk menyerahkan masalah Pemilu kepada lembaga-lembaga yang berwenang sesuai Undang-Undang. Ia pun mengajak masyarakat untuk menghormati apapun hasil Pemilu yang nantinya akan ditetapkan oleh Pleno KPU. “Untuk itu, mahasiswa sebagai kaum intelektual harus turut menjaga proses dan hasil Pemilu 2019, mencegah aksi-aksi yang inkonstitusional. Ikut menjaga legitimasi produk Pemilu 2019, serta ikut memerangi hoax,” ujarnya.

Pria yang pernah bertarung dalam Pilkada Banten 2017 lalu bersama Rano Karno ini menambahkan, semua warga negara Indonesia harus menghormati dan menghargai penyelenggara Pemilu. “Mari kita jaga legitimasi lembaga penyelenggara Pemilu. Semoga, apa yang terjadi dalam Pemilu kali ini bisa menjadi masukan dan pembelajaran untuk pelaksanaan kedepannya,” tandas Embay.

Sementara itu, Dikdik dalam kesempatan ini mengajak mahasiswa dan masyarakat untuk mempercayai penyelengagra Pemilu, serta mekanisme yang ada sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku. “Kita tidak boleh berprasangka buruk terhadap KPU, karena KPU juga memiliki keterbatasan. Saya melihat sendiri, input data dalam Pemilu 2019 ini bukan hal yang mudah. Karena itu, mahasiswa sebagai generasi muda harus ikut mendukung dan mengawal penyelenggaraan Pemilu sampai dengan pengumuman nanti. Mahasiswa harus ikut menyatukan polarisasi masyarakat paska Pemilu,” tandasnya.

Adapun Liza Diniarizky Putri menambahkan, sebagai agent of change, social controller dan iron stock, mahasiswa yang menggelar diskusi seperti ini patut diapresiasi. Terlebih, mahasiswa adalah makhluk yang merdeka, tidak memiliki beban sejarah masa lalu. “Mahasiswa harus bisa berdiri di tengah-tengah masyarakat, menjadi pemersatu masyarakat. Kajian-kajian sepert ini sangat baik untuk menambah wawasan mahasiswa, dan disebarluaskan ke khalayak ramai agar menyejukkan dan damai,” tukasnya.